Andalan

Sastra Tutur Sumsel Punah? Bergurulah pada Metode Iqra

Caption Foto : Aminulatif, SE, M.Pd, Ketua Lembaga Balai Bahasa Sumsel (kiri) dan Ahmad Bastari, seniman senior di Palembang dalam Dialog Sastra ““Kegiatan Mitra Kebahasaan dan Kesastraan” Kamis (6/8/2015) (FOTO : DOK.BALAI BAHASA SUMSEL/ERY)
DIALOG SASTRA –Aminulatif, SE, M.Pd, Ketua Lembaga Balai Bahasa Sumsel (kiri) dan Ahmad Bastari, seniman senior di Palembang dalam Dialog Sastra ““Kegiatan Mitra Kebahasaan dan Kesastraan” Kamis (6/8/2015) (FOTO : DOK.BALAI BAHASA SUMSEL/ERY)

Ruang pertemuan Balai Bahasa Sumatera Selatan (Sumsel) sore itu, Kamis (6/8/2015) ramai oleh sejumlah seniman, peneliti dan praktisi budaya lainnya. Mereka menyoal tentang sastra tutur (lisan) di Sumsel yang dinilai Ery Agus Kurnianto, M.Hum, salah satu peneliti muda bidang sastra di Sumsel sedang diambang kepunahan. “Potensi sastra tutur di Sumsel, hasil penelitian kami paling tidak ada 127 jenis. Ini kita ambil dari sejumlah kabupaten dan kota di Sumsel.

Diantaranya Njang Panjang dan Bujang Jelihim yang berkembang di daerah Ogan Komering Ulu, Jelihiman di Ogan Ilir, Senjang di Musi Banyuasin, Geguritan, Betadur dan Tangis Ayam yang tumbuh di Lahat, Nyanyian Panjang dan Bujang Jemaran terdapat di Ogan Komering Ilir, sedangkan di Palembang terdapat dongeng dan denggung.

Tetapi di lapangan diakui Ery sangat kesulitan mencari penutur yang bisa menuturkan dengan baik. “Saya pikir kalau aset ini tidak dilestarikan, sastra di Sumsel akan hilang. Kalau melihat faktanya memang saat ini sastra tutur di Sumsel sudah diambang kepunahan,” ujarnya.

Kegelisahan Panjang

Ungkapan Ery merupakan kegelisahan panjang yang dimata Penyair Anwar Putra (AP) Bayu, bukan kali pertama persoalan ini muncul dalam diskusi sastra. Sebab nayris setiap tahun diskusi sastra tutur berkutat pada persoalan upaya pelestarian yang tidak berujung dari tahun ke tahun. “Sebenarnya kegelisahan terhadap sastra tutur ini bukan kali ini saja, dan bukan hanya balai bahasa saja yang gelisah, tetapi ini merupakan kegelisahan kita semua,” tegas Bayu.

Ery Agus Kurnianto, M.Hum, salah satu peneliti muda bidang sastra di Sumsel
Ery Agus Kurnianto, M.Hum, salah satu peneliti muda bidang sastra di Sumsel

Dialog dengan tema “Kegiatan Mitra Kebahasaan dan Kesastraan” yang berlangsung sekitar 3 jam itu kemudian mengemuka sebuah pertanyaan bagaimana sebaiknya melestarikan sastra tutur itu? Ery kembali menyoal peran lembaga pendidikan di Sumsel. Ery membandingkan muatan lokal di Jawa yang sejak Sekolah Dasar (SD) ada mata ajar Bahasa Daerah. “Di Jawa, sampai sekarang anak-anak masih bisa membaca ejaan jawa ho-no-co-ro-ko, do-to-so-wo-lo-po-dho-jo-yo-nyo-mo-go-bo-tho-ngo. Sementara di Sumsel punya huruf Kaganga. Tapi bagaimana peran lembaga pendidikan untuk mendorong aset seni budaya ini, termasuk sastra tutur dengan muatan lokalnya?” ujar Ery.

Adalah Vebri Al-Lintani, Ketua Dewan Kesenian Palembang (DKP) ikut andil dalam perbincangan upaya pelestarian sastra tutur, terutama bagaimana mendorong sekolah agar memasukkan sastra tutur ini dalam muatan lokal. Diakui atau tidak, baik Vebri ketika duduk sebagai Ketua DKP sekarang maupun sebelumnya, gagasan dan desakan pelestarian sastra tutur, bahkan seni daerah lainnya agar manjadi muatan lokal sudah seringkali di usulkan.

Namun faktanya, di mata Vebri seniman posisinya lemah karena sebatas mengusulkan. “Seniman tidak punya otoritas kebijakan, sebab yang punya otortitas dalam hal ini Dinas Pendidikan Nasional. Jadi untuk hal ini kita memang harus bersinergi dengan Diknas. Melalui DKP, ke depan kita akan kembali desak agar upaya pelestarian sastra tutur ini bisa menjadi bagian kurikulum di sekolah,” ujar Vebri.

Vebri Al Lintani Ketua Dewan Kesenian Palembang (DKP)
Vebri Al Lintani Ketua Dewan Kesenian Palembang (DKP) Foto : Goog;e Image

Niat baik boleh saja terlontar dari forum ini, tetapi praktisi pendidikan berkata lain. Dalam sebuah perbicangan informal dengan sejumlah guru, muatan lokal apapun materinya, dinilai mereka akan memberatkan siswa. Sebab selama ini, jauh sebelum ada muatan lokal siswa sudah berat menanggung beban pelajaran di sekolah. Fakta ini yang seringkali menjadi alasan sejumlah guru merasa keberatan, mengapa muatan lokal, baik materi seni budaya, materi pendidikan anti korupsi, kesadaran lingkungan, antisipasi bencana selalu tersantuk oleh kebijakan di sekolah sendiri, termasuk upaya pelestarian sastra tutur.

Sebelumnya, Pengamat sastra, Latifah Ratnawati, pernah mengungkapkan hingga kini guru-guru sekolah sudah jarang yang memahami sastra lisan (tutur), seperti pitutur Bujang Jelihim dari daerah Ogan Komering Ilir, pertunjukan cerita Putri Dayang Merindu asal Palembang, dan dongeng Putri Pinang Masak.

“Dari survei yang pernah kami lakukan, hanya 40 persen dari sekitar 100 guru SD di Sumse yang mengetahui nama-nama sastra tradisi itu. Padahal, karya-karya itu telah hidup di masyarakat Sumsel sejak ratusan tahun silam,” katanya.

Jika kekayaan tradisi itu benar-benar punah, masyarakat Sumsel akan kehilangan akar budaya yang membentuk karakternya. Nilai-nilai yang terkandung dalam sastra tutur dapat digunakan untuk menularkan kearifan lokal kepada generasi muda.

 Macan kertas

Gagasan, ide dan desakan seniman yang kemudian menghasilkan sebuah rekomendasi dari setiap seminar dan diskusi, pada kenyataannya menjadi macan kertas, apalagi menyoal mulok yang berbau seni budaya daerah. Ahmad Bastari, salah satu praktisi seni di Sumsel yang didaulat menjadi pembicara dalam forum itu turut miris melihat realitas kesenian daerah, terutama di sekolah.

Bagaimana tidak miris bila seniman senior di Palembang ini melihat kenyataan di sejumlah sekolah lebih mengdepankan lomba kreasi seni yang cenderung profan (seni impor) ketimbang mengusung tema-tema daerah. “Saya miris ketika di sebuah sekolah akan menggelar lomba goyang Inul,” ujar Bastari yang ditingkahi gelak tawa para peserta diskusi. Ironisnya, peristiwa ini bukan hanya di satu sekolah melainkan di hampir sebagian besar sekolah.

Bastari kemudian mengemukakan komparasi pelestarian warisan budaya di Cina dan Jepang dengan Indonesia. Cina dan Jepang jauh sebelum berkembang seperti sekarang, negara Tirai Bambu dan Negeri Sakura itu secara teknologi banyak belajar dari sejumlah negara yang lebih maju. Tapi di mata Bastari dua negara itu, meski modernisasi dalam bidang teknologi dan budaya berkembang tidak pernah meninggalkan nilai-nilai kearifan lokal yang dimilikinya.

“Se-modern-modern-nya Jepang, mereka tidak pernah akan meninggalkan pakaian khas mereka: Kimono dan Kipas. Kenapa? Ini adalah warisan nenek moyang Jepang yang wajib mereka lestarikan. Sementara di Indoensia ini tidak begitu. Teknologinya diambil, gaya hidupnya ditiru bahkan cara berpikirnya juga ikut-ikut budaya impor. Nah, disinilah kerusakan mentalitas bangsa kita yang faktanya sudah jauh melenceng dari warisan budaya kita sendiri, apalagi kearifan lokal? Nah inilah yang harus menjadi tanggungjawab kita bersama,” ujarnya.

 Berguru dari Metode Iqra

Di ujung pertemuan, muncul juga sampel pelestarian sastra tutur melalui metode Iqra, yang kini dikembangkan oleh Badan Komunikasi Pemuda dan Remaja Masjid  Indonesia (BKPRMI). Ide ini sekadar komparasi. Bila metode iqra saja bisa mengakar dari tingkat anak-anak sampai kalangan remaja, mengapa sastra tutur tidak?

Bila mengadopsi metode IQRA, secara nyata Taman Kanak-Kanak/Taman Pendidikan Al-Quran (TK/TPA) yang sejak tahun 80-an digagas H Humam tokoh asal Yogyakarta hingga kini nyaris tidak ada orang yang tidak mengetahui metode Iqra. Sebab proses kaderisasi sangat sistematis.

Metode Iqra hingga kini sangat kuat melekat di setiap masjid. Oleh sebab itu sangat mungkin strategi penguatan kesadaran dan kaderisasi penutur sastra lisan di Sumsel dilakukan sebagaimana metode Iqra, sejak proses sosialisasi sampai pelatihan secara terus menerus sebagaimana proses sosialisasi metode Iqra, daru tingakt kelurahan sampai pusat.

Diketahui, setiap tiga tahun sekali BKPRMI menggelar Festival Anak Shaleh (FASI) yang salah satu mata lombanya adalah Sosio-Drama (teater), yang nota-bene-nya berbasis sastra tutur.

Kemudian jauh sebelum itu, para calon guru TK/TPA juga dikader melalui pelatihan selama satu pekan dari setiap zona. Dari fakta itu, upaya pelestarian ala metode Iqra ini bisa diadopsi dalam konten sastra tutur. Selanjutnya, bilai di BKPRMI ada FASI,  sangat mungkin bila ke depan di institusi seni bisa menggelar festival sastra tutur (Fastratur) se- Sumsel.

Respon positif kemudian terlontar dari Aminulatif, SE, M.Pd, Ketua Lembaga Balai Bahasa Sumsel. Upaya pelestarian sastra tutur di mata Aminulatif menjadi tanggungjawab bersama. Maksimalisasi lembaga kesenian, seperti Dewan Kesenian Sumatera Selatan (DKSS) dan DKP merupakan keharusan.

Aminullatif - Kepala Balai Bahasa Sumsel (Foto : Google Image)
Aminullatif – Kepala Balai Bahasa Sumsel (Foto : Google Image)

Amin menyebutkan, Balai Bahasa akan selalu membuka ruang bagi sejumlah seniman dan pihak manapun yang akan membantu proses pelestarian nilai-nilai budaya di Sumsel, termsuk didalamnya sastra tutur.

“Pada prinsipnya kita di Balai Bahasa terbuka, apalagi hal ini memang menjadi salah satu tugas kami untuk ikut mendokumentasikan dan melestarikan aset budaya di Sumsel, termasuk gagasan akan digelarnya Festival Sastra Tutur di Sumsel, saya pikir ini harus ditindaklanjuti,” ujarnya.

Punah? Menunggu Waktu

Lima tahun sebelumnya kegelisahan serupa, pernah disampaikan Yudhy Syarofie, ketika itu masih menjabat sebagai Wakil Ketua Komite Sastra DKSS Yudhy Syarofie. Di mata Yudhi, kepunahan sastra tutur di Sumsel hanya tinggal menunggu waktu.

Sastra tutur dinilai Yudhi pada era modern hanya dipentaskan pada pesta adat, saat-saat tertentu, atau pada Festival Sriwijaya setahun sekali. Di luar itu, tak banyak lagi pertunjukan sastra tutur. Padahal, menurut Yudhi, sastra tutur mengandung nilai-nilai filosofis penting dalam kehidupan. Dongeng Si Pahit Lidah dan Si Mata Empat, misalnya, mengajarkan anak-anak agar menyelesaikan masalah dengan jalan damai dan menghindari tindakan menang sendiri.

“Tapi ironisnya generasi muda sekarang enggan menekuni atau menonton sastra tutur. Pertunjukan pop masih lebih atraktif bagi mereka, seperti pertunjukan dangdut, musik pop, atau organ tunggal. Tayangan di televisi juga lebih diminati,” katanya.

Padahal, sastra tutur merupakan seni mendongeng yang dituturkan di tengah masyarakat Sumsel sejak beratus-ratus tahun lalu. Sastra itu berisi cerita-cerita yang bermuatan nilai-nilai kearifan lokal, diceritakan oleh seorang penutur dengan atau tanpa iringan musik. Pertunjukan dilakukan dengan bahasa Melayu untuk pesta adat, hajatan besar, atau acara lain.

Sastra tutur, yang merupakan kesenian tradisional asli Sumsel, saat ini semakin ditinggalkan masyarakat. Para penutur yang berusia lanjut sudah banyak yang meninggal, sedangkan generasi muda tidak tertarik untuk mengembangkannya. “Jika tidak ada langkah-langkah penyelamatan, kekayaan lokal yang bermuatan nilai-nilai hidup itu akan punah dan tinggal menjadi sejarah,” tegas Yudhy Syarofie kala itu.

TEKS / EDITOR : IMRON SUPRIYADI

 

Iklan

Antologi Refleksi Fajar

Sajak-sajak Warman P

Warman P (Sumarman S. Ag), lahir di Desa Tebing Gerinting (Ogan Ilir), 16 Februari 1971. Masa kecilnya dihabiskan di Sungailiat (Provinsi Bangka Belitung), kemudian meneruskan sekolah di Palembang, SMP Muhammadiyah I Bukit Kecil Palembang hingga perguruan tinggi (S 1) IAIN Raden Fatah Palembang Mulai menulis sejak tahun 1987 di Tabloid Media Guru Sumsel,  kemudian SKH Suara Rakyat   Semesta (Sumsel), SKH Sumatera Ekspres (Sumsel), SKH Sriwijaya Post (Sumsel),  SKH Lampung Post (Lampung), SKM Media Regional (Jambi) dan SKH Berita Pagi (Sumsel). Menerbitkan Antologi Puisi GHIRAH (antologi Bersama), 1992,  Menghitung Duka (Antologi Bersama) 2000, Syair Perjalanan Akhir (Antologi Tunggal), 2002.  Antologi Refleksi Fajar ini akan menjadi antologi tunggalnya yang kedua. “Menulis puisi maupun cerpen terkadang sebagai pelepasan “hajat”, hingga tercecer di manapun tempat pembuangan, namun terkadang sebagai sebuah pesan yang harus sampai, atau apapun yang memungkinkan membuat aku hidup sebagai apa adanya aku sebagai insan BERASA, BERFIKIR DAN BERKARYA”
Warman P (Sumarman S. Ag), lahir di Desa Tebing Gerinting (Ogan Ilir), 16 Februari 1971. Masa kecilnya dihabiskan di Sungailiat (Provinsi Bangka Belitung), kemudian meneruskan sekolah di Palembang, SMP Muhammadiyah I Bukit Kecil Palembang hingga perguruan tinggi (S 1) IAIN Raden Fatah Palembang
Mulai menulis sejak tahun 1987 di Tabloid Media Guru Sumsel, kemudian SKH Suara Rakyat Semesta (Sumsel), SKH Sumatera Ekspres (Sumsel), SKH Sriwijaya Post (Sumsel), SKH Lampung Post (Lampung), SKM Media Regional (Jambi) dan SKH Berita Pagi (Sumsel).
Menerbitkan Antologi Puisi GHIRAH (antologi Bersama), 1992, Menghitung Duka (Antologi Bersama) 2000, Syair Perjalanan Akhir (Antologi Tunggal), 2002. Antologi Refleksi Fajar ini akan menjadi antologi tunggalnya yang kedua.
“Menulis puisi maupun cerpen terkadang sebagai pelepasan “hajat”, hingga tercecer di manapun tempat pembuangan, namun terkadang sebagai sebuah pesan yang harus sampai, atau apapun yang memungkinkan membuat aku hidup sebagai apa adanya aku sebagai insan BERASA, BERFIKIR DAN BERKARYA”

 

 Al – ASHR

Inilah waktu menjelang terik

dan terang bumi memberi  pilihan kesadaran

kesabaran tak sekedar keyakinan

keyakinan tak sekedar  keberanian

keberanian  tak sekedar kekonyolan

ketulusan bukan kebodohan

jika tertulis di setiap desah nafas

beriring nama-Nya.

Palembang, 2010

 

MENIKMATI KEBODOHAN

Satu waktu menikmati kebodohan

dan tertawa tanpa beban masa lalu

meski langit telah mencatat

dengan berbagai pertimbangan yang  membosankan

Aku selalu melangkah  menuju Sang Waktu

menerima diri sebagai pecundang

manaka yang tersirat telah kupecahkan sebagai cemeti pagi ini .

Palembang, 2010

 

HANYA ALLAH

Diamku dzikir

suaraku menjadi mutiara

mataku kini gelap gulita

aku mabuk Allah

atas segala mahluk yang terkandung zat-Nya

Palembang, 2010

 

REFLEKSI FAJAR

Sungguh kita terlanjur jauh

sesuatu yang tertulis sebagai statika peradaban

menjelma seperti tuhan

kita pun terlelap di kebisingan malam

pada kotak-kotak keangkuhan

lalu melihat cinta-Nya

sebagai bilangan-bilangan tanpa makna

Palembang, 2010

 

MENUNGGU

Aku menunggu di sini

pada batas taqdirku

hingga aku menyerah sendiri

menjadikan sujud sebagai kekuatan

menjadikan kematian sebagai jalan kebenaran

Palembang, 20120

 

Masih kupendam rindu

nyanyian dan do’a dalam ikhtiarku

luka masih berlalu begitu saja

pada pergumulan penyesalan dan ketakberdayaan

berharap di setiang ruang dan waktu yang terlewati

menghantui setiap arah dan langkahku

maka,

aku pun tak akan menyerah

Palembang, 2011

 

KUSAPA MALAM

Lalu aku tertunduk lesu

dicekam penatnya hati

pada hantu sejarah dan masa depan

kini,

seperti apapun jua

menikmati aromanya dengan rintik dan hembusan angin

berputar-putar di bilik kita

hingga jenuh

maka, aku ciptakan ruang hidup

dimulai dari nyala lilin kecil yang redup

hingga percikan  rintik hujan memusnahkannya

sementara angin malam terus menghembus

membalut bara dendam yang kerapkali muncul

Palembang, maret 2011

 

Bagi-Mu segala puji

segala keindahan

biarkan aku menjaga

segenap permata yang dititipkan

dengan sedikit kuasa-MU

maka,

biarkan aku mengambil kembali

setiap permata yang terlepas satu persatu

hingga tuntas tugasku sebagai seorang hamba

Palembang, 2011

WAKTU

Setiap langkah tercatat sia-sia

laksana angin berhembus tanpa titipan pesan

Aku menggarami air di lautan

Namun, selalu memuji-MU

dalam setiap tarikan nafas

karena ENGKAU maha menghitung

pada setiap butir garam yang kutabur

Palembang, 2011

JIKALAU

Misalkan,

aku lepas dari berbagai ketakberdayaan

menertawai himpitan waktu

maka aku menyebut diri sebagai manusia merdeka

Seandainya,

aku harus terus menulis berjuta kata tentang kebohongan

maka aku seperti perahu oleng di samudera-Nya

Jika,

aku tak gagal mengambil kesimpulan

maka aku telah menuliskan sesuatu

tentang cerita indah dua insan

Sungguh,

bumi adalah tempat segala kemungkinan

kita memahat mimpi-mimpi tertinggi

meniti setiap jengkal lorong kematian

hingga taqdir menentukan batasnya

maka,

aku pun bersyukur manakala setiap jengkal terlanjur

setidaknya tercatat sebagai sebuah keberanian untuk mengambil keputusan

Palembang, 2011

 BENDERA KERTAS

Selamat pagi,

tahun ini kami kibarkan bendera kertas

dari kotak sampah dari kantormu yang teramat megah

bendera lama sudah tak mampu lagi menahan kibasan angin

dengan tanpa rasa hormat,

maka kumaki kalian yang telah merampas

segala yang terbaik diwariskan nenek moyang kami

Palembang, Agustus 2011

 

SEPERTI ENGKAU

Aku menangis seperti engkau menangis

mengharap setitik cahaya terang

meratapi ketakberdayaan dan kebimbangan

Aku menghitung seperti engkau menhitung

pada ribuan kata yang mengalir sia-sia

hingga lelah sendiri

Aku terjatuh sama seperti engkau terjatuh

lalu bangun setelah menjadi batu

dalam masa yang panjang

menuliskan cerita tentang masa depan

Aku terlahir sama seperti engkau terlahir

tercatat dalam lembar – lembar semesta raya

dan memetik hikmah pada setiap kegagalan

hingga jelas bahwa hidup kita buka menunda kekalahan

tapi memberi arti pada setiap langkah

Palembang, Januari 2012

 

Tak perlu ada kesaksian

jika engkau hanya sebuah kebohongan

sebab menyatakan kemuliaan tanpa mengukur diri

seperti melumpuri wajah tanpa berkaca

tak pelu menunjukkan kesalahan

atau menyalahkan kegagalan

kalau tanpa memberi hikmah pada perbuatan

hidup kadang seperti permainan

penuh pesan tersembunyi

di balik kepura-puraan kita.

Palembang, 2012

FRIDAY MORNING

Pagi

cahaya terang

hilanglah kelam

kembalikan aku sebagai permulaan yang baik

Salam

sebagai sesuatu yang indah

dalam doa dan ketulusanmu

Palembang, Maret 2012

 

Aku kembali terjaga

mengusik keterlenaan

hingga fajar tiba

lalu masa lalu mengalir seperti bencana

jutaan ton bebatuan menimpa kepalaku

dalam perjalanan yang belum jua sampai

dan titik perhentian yang tak seharusnya

aku ingin bandang menghapus kebencian

seperti menyapu  dedaunan kering di halaman rumah

Palembang, maret 2012

 

BIBIR MERAH ALAM MAYA

Fantasi,

jutaan transaksi tak begitu berarti berarti

bukan pula sekedar hitungan rupiah

cerita palsu penghangat pertemuan

tapi birahi telah begitu jauh melampau batas-batasnya

siapa suka

siapa salah

jika kehangatan tak lagi seperti secangkir kopi dan sebatang candu

dan melahap semua ketololan di kamar kerja

Palembang, 2012

 

SEPOTONG DAGING DAN SEBILAH PEDANG

Tiada tahun bermusim cerah  di lautan hatimu

hingga engkau kibaskan kebencian di setiap perbincangan

semua kisah menjadi sia-sia

tidak pula pada rinduku bertahun-tahun

mendekap impian kosong serta kebimbangan

meski aku karang di lautan

Hanya sepotong daging

dan kedinginan malam dalam rintik hujan dinihari

aku terlelap kembali

Palembang, 2011

 

 

Aku ingin engkau kembali memberi terang

saat senja menjelang malam

menyimpan energi yang kuat

pada setiap gerak dam diamku

Palembang, 2012

 

MUSIM BERUBAH

Sesuatu menjadi lain

menjelma menjadi takmenentu

manakala irama alam tak lagi harmoni

menjelaskan kearifan adalah cerita para pembohong

segala kemungkinan menjadi dongeng murahan

lalu tidur kita menjadi tirani yang menyesakkan

Siapa yang mampu menjawab taqdir dan harapan

jika hitungan pasang surut  tak berlaku lagi

cukuplah bagiku menjelaskan diri sendiri

memecah kebekuan dengan suara diam tanpa dendam

maka haluan tak pernah berputar arah

dan keterpurukan menjadi cerita sepanjang waktu

Palembang, mei 2012

MENUNGGU

Sepiku kini semakin dalam

membatu pada gelap

menikmati rasa bodoh dalam desah nafasmu

Memandangi siluet masa lalu

hingga asyik menggali kuburku sendiri

serta menulis kegelisahan dan dendam di batu nisan

Palembang, 2012

 

SEMANGKOK API

Maka aku tuliskan segala amarah

di hamparan pasir hingga deburan ombak menyapuku

menyeret jauh ke samudera luas.

Duh,

betapa kecilnya diri

saat angin laut meniupkan pesan kematian di telingaku

hingga aku terlelap lelah sendiri

Palembang, 2012

PESAN DARI DESA

 

Nak, tetaplah sekolah

sebab kabar dari desa akan selalu baik-baik saja

tak perlu risau,

apalagi bersedih hati

meski  sebidang tanah ladang bukan milik kita lagi

tapi hamparan lebak masih tak bertuan

alam terbentang memberi harapan

hidup dalam pasang surutnya muara

Ingat,

fajar memerah adalah tanda bergegas

untuk segera  menyusuri talang dan lebak

mengikuti arah angin hingga hutan lindungan

Maka,

Tetaplah ke sekolah

jalan panjang tetap berujung terang gemilang

kemauan akan selalu bersenang hati menemukan jalannya sendiri

lewat sujud dan tekad kita.

Tungkal Ilir,  27 November 2013